“Kebahagiaan semaksimal mungkin bagi mayoritas masyarakat”, tulis Jeremy Bentham (1748-1832), orang Inggris, “adalah fondasi moral dan leglasi”. Untuk mengatakan bahwa tindakan-tindakan itu seharusnya diarahkan untuk menghasilkan kebahagiaan: “Semua yang baik akan berakhir baik” (All’s well that ends well) adalah esensi dari utilitarianisme. Atau, dari sartu sudut pandang yang kritis, “Tujuan menghalalkan segala cara”.

Dalam kenyataannya, kaum utilitarian, seperti Bentham dan John Stuart Mill telah mempromosikan sejenis relativisme moral. Tindakan-tindakan, dalam pandangan mereka, tidak dapat divonis secara terpisah dari berbagai kondisi dan akibat. Seorang yang menganut moral absolut akan mengatakan bahwa tindak pembunuhan itu adalah salah, tak peduli apapun situasinya. Namun, seorang utilitarian, akan mengatakan bahwa pembunuhan itu benar jika menyediakan kebaikan yang lebih besar. Anggaplah Anda dapat membunuh Hitler, seorang utilitarian akan menjelaskan kepada Anda untuk melangkah maju, karena satu orang mati adalah lebih baik daripada banyak orang yang terbunuh.

Ketika dia menyamakan kebaikan dengan apa yang dapat membuat banyak orang menjadi sangat bahagia, utilitarianisme versi Bentham disebut “universal”. (Tidak semua utilitarian adalah universalis;beberapa pihak mengatakan bahwa apa yang baik bagi Anda, hanya Anda yang dapat memvonis demikian.) Satu masalah dengan pendekatakan Bentham adalah Anda tidak dapat selalu memastikan akibat-akibat yang membahagiakan, dan wacana tindakan terbaik mungkin hanya dapat dipahami setelah tindakan itu dilakukan. Anda boleh jadi bermaksud untuk menyenangkan setiap orang dengan memberikan kue coklat,tetapi ketika setiap orang sedang menjlankan diet makan atau punya penyakit alergi, maka Anda telah membuat mereka menjadi tidak bahagia. Apakah kami memvonis tindakan Anda sebagai “salah” meskipun niat Anda adalah untuk memberikan kebahagiaan terbesar kepada sebanyak mungkin orang? Menurut kaum utilitarian, jawabannya adalah “ya”.

Satu kesulitan yang dapat ditimbulkan adalah tidak setiap orang bersikap setuju pada apa yang dimaksud dengan “kebaikan”. Standar Bentham adalah kebahagiaan, tetapi terdapat argumen-argumen persuasive yang bertentangan. Misalnya, banyak orang  akan mengatakan bahwa sikap rendah hati itu adalah baik, meskipun ia dapat menghasilkan penderitaan. Demikian pula, sikap tidak perhatian (ignorance) adalah membahagiakan, tetapi bukanlah ide dari setiap orang tentang apa itu baik atau bermanfaat. Barangkali, tidak bahagia sekarang adalah lebih baik jika hal itu berarti bahwa Anda akan menjadi lebih bahagia di masa depan. Akan tetapi, vonis-vonis seperti itu bergantung kepada berbagai akibat jangka panjang, dan orang mungkin akan berargumen di sekitar seberapa lama batasan periode waktu tersebut. Apakah baik, misalnya untuk melancarkan perang dagang terhadap china, dan dengan demikian menghukum para konsumen Amerika, jika akibat jangka panjangnya adalah situasi ekonomi Amerika yang lebih kuat? Mungkin saja, tetapi dalam waktu jangka panjang yang lebih lama lagi, keuntungan-keuntungan bisa saja lenyap, sementara antara kedua Negara masih terus berlanjut.

Bentham telah membuat beberapa rencana jangka panjang yang menarik, menurut versinya sendiri. Dia mewariskan perpustakaannya dan harta bendanya kepada University College di London, tempat dia mengajar filsafat. Hal yang tak terduga yang terjadi adalah bahwa jasad Bentham masih terus hadir dalam pertemuan-pertemuan di Fakultas. Tengkoraknya telah disangga dengan sangat baik dan sangat terjaga dan bahkan masih tetap dipertontonkan di balik kaca di College itu, meskipun bagian kepala Bentham telah diganti dengan kepala yang terbuat dari lilin. (Bagian kepala asli, yang sudah mulai membusuk, diletakkan di dalam sebuah kotak terbuat dari logam di bawah kaki.) Bentham masih terus mengikuti pertemuan-pertemuan, yang tidak diragukan lagi adalah seorang peserta yang lebih hidup.

Penulis : Michael Macrone


Roseto Valfortore terletak seratus mil sebelah tenggara Roma di kaki pegunungan Apennine di Provinsi Foggia, Italia. Sebagaimana perdesaan dengan gaya abad pertengahan, kota ini memiliki sebuah alun-alun yang luas. 
Palazzo Marchesale, istana keluarga Saggese yang dahulu merupakan pemilik tanah yang kaya-raya di kota ini, menghadap ke alun-alun ini. 
Sebuah jalan di salah satu sisi alun-alun ini berujung di sebuah gereja, Madonna del Carmine - Our Lady of Mount Carmine. Jalanan batu yang sempit menyusuri bukit, diapit jejeran rumah batu bertingkat dua dengan atap genting merah yang berimpitan. 
Selama berabad-abad lamanya, paesani (penduduk) Roseto bekerja di tambang marmer di perbukitan yang mengelilingi kota tersebut atau bertani di lembah yang bertingkat-tingkat di bawahnya, berjalan empat sampai lima mil menuruni pegunungan di pagi hari dan kembali menyusuri jalan yang panjang itu saat mendaki di malam hari. 
Kehidupan di sana keras. Tak banyak penduduk desa itu yang bisa baca-tulis dan sangat miskin tanpa banyak harapan untuk memperbaiki kondisi perekonomiannya, sampai sebuah berita tentang tanah harapan di seberang lautan mencapai Roseto pada akhir abad kesembilan belas.
Pada Januari 1882, sebelas penduduk Roseto -sepuluh orang pria dan satu anak laki-laki- berlayar menuju New York. Mereka menghabiskan malam pertama dengan tidur di lantai bar setempat di Mulberry Street, di wilayah Little Italy di Manhattan. 
Kemudian mereka meneruskan perjalanan menuju barat, dan akhirnya menemukan pekerjaan di sebuah tambang batu di sekitar sembilan puluh mil sebelah barat kota itu, di dekat kota Bangor, Pennsylvania. 
Tahun berikutnya, lima belas penduduk Roseto meninggalkan Italia menuju Amerika, dan beberapa orang dari kelompok itu juga berakhir di Bangor, bergabung dengan rekan mereka untuk bekerja di tambang batu. 
Para imigran ini akhirnya mengirimkan berita ke Roseto tentang janji Dunia Baru, dan tak lama kemudian banyak orang dari Roseto yang melakukan perjalanan menuju Pennsylvania, sampai akhirnya arus imigran semakin membesar. Pada 1894 saja, sekitar 1.200 penduduk Roseto membuat paspor untuk masuk ke Amerika, meninggalkan desa mereka. 
Orang-orang Roseto ini mulai membeli tanah di sisi pegunungan batu yang bisa dicapai dari Bangor melalui jalanan kereta kuda yang curam dan sepi. Mereka membangun perumahan batu bertingkat dua yang saling berimpitan dengan atap batu sabak di jalanan yang sempit di sepanjang sisi bukit. 
Mereka membangun sebuah gereja dan menyebutnya Our Lady of Mount Carmel dan menamai jalanan utama, tempat gereja itu berada, sebagai Garibaldi Avenue, untuk menghormati pahlawan besar yang menyatukan Italia. 
Pada awalnya mereka menamai kota mereka New Italy. Tetapi, mereka kemudian mengubahnya menjadi Roseto, yang sepertinya pantas, mengingat kebanyakan dari mereka berasal dari desa yang sama di Italia. 
Pada 1896, seorang pendeta muda yang berpikiran maju bernama Pastor Pasquale de Nisco menjadi pemimpin gereja Our Lady of Mount Carmel. De Nisco mendirikan perkumpulan spiritual dan mengadakan berbagai festival. 
Dia mendorong orang-orang kota untuk menyisihkan sebagian tanahnya untuk menanam bawang, buncis, kentang, melon, dan pohon buah lainnya di halaman belakang rumahnya masing-masing. 
Dia membagikan benih dan ubi-ubian. Kota itu menjadi hidup, Penduduk Roseto mulai memelihara babi di halaman belakang dan pohon anggur sebagai bahan baku anggur buatan sendiri. Sekolah, taman, biara, dan pemakaman dibangun di kota itu. Sejumlah toko kecil, toko roti, restoran, dan bar dibuka di sepajang Garibaldi Avenue. 
Lebih dari selusin pabrik pakaian didirikan untuk mendukung industri pakaian di kota itu. Kota tetangga mereka, Bangor, kebanyakan dihuni oleh orang berdarah Wales dan Inggris, dan kota berikutnya dihuni oleh orang berdarah Jerman, yang berarti - mengingat hubungan bangsa Inggris, Jerman, dan Italia yang bermusuhan pada saat itu - Warga Roseto tidak mau bercampur dengan orang dari kota lain. 
Kalau kita menyusuri jalanan di kota Roseto, Pennsylvania, pada beberapa awal dekade setelah tahun 1900, kita hanya akan mendengar bahasa Italia, dan bukan bahasa Italia seperti umumnya, melainkan dengan dialek Foggia selatan yang kental seperti yang digunakan di kota Roseto, Italia. 
Roseto, Pennsylvania, menjadi dunia kecil yang mandiri - tidak dikenal oleh lingkungan masyarakat di luar kota itu - dan mungkin akan tetap seperti itu bila bukan berkat seorang pria bernama Stewart Wolf. 
Wolf adalah seorang dokter. Dia mempelari ilmu pencernaan dan perut, serta berekolah di sekolah kedokteran di University of Okhlahoma. 
Dia menghabiskan musim panasnya di sebuah pertanian di Pennsylvania, tidak jauh dari Roseto - walaupun , tentu saja, hal ini tidak berarti banyak karena Roseto merupakan dunia tersendiri sehingga sungguh mungkin jika kita hidup di kota tetangganya dan tidak pernah mengetahui apa pun tentang kota Roseto. 
"Sekali waktu kami pergi ke kota itu di musim panas - saya diundang untuk memberikan ceramah di lingkungan kedokteran setempat," ujar Wolf bertahun-tahun kemudian dalam sebuah wawancara. 
"Saat ceramah sudah selesai, salah seorang dokter setempat mengundang saya untuk minum bir. Dan saat kami sedang minum, dia mengatakan, "Tahu tidak, saya sudah menjadi dokter selama tujuh belas tahun lamanya. Saya sudah melayani pasien dari seluruh penjuru kota ini dan saya jarang menemukan orang berusia di bawah 65 tahun di Roseto yang mengidap penyakit jantung."
Wolf merasa bena-benar terkejut. Ini adalah tahun 1900-an, tahun ketika berbagai obat penurun kolesterol dan pengobatan yang agresif untuk mencegah timbulnya penyakit jantung belum ditemukan. Serangan jantung sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat. Hal itu menjadi penyebab utma kematian pria di bawah usia 65 tahun. Menurut akal sehat, seorang dokter tidak mungkin tidak pernah melihat pasien penyakit jantung.
Wolf memutuskan untuk melakukan penelitian. Dia mengikutsertakan dukungan beberapa murid dan rekannya dari Okhlahoma. Mereka mengumpulkan sebanyak mungkin sertifikat kematian penduduk kota tersebut. Mereka menganalisis catatan dokter. Membaca sejarah kesehatan dan genealogi keluarga di kota itu. 
"Kami bekerja keras," ujar Wolf. "Kami memutuskan untuk melakukan penelitian awal. Kami memulainya pada 1961. Sang walikota berkata, 'Semua adikku akan menolongmu.' Dia memiliki empat orang adik perempuan. Dia mengatakan, 'Kalian bisa menggunakan ruang dewan kota.' Aku berkata, 'Lalu, di mana kalian akan mengadakan pertemuan dewan kota?' Dia menjawab, 'Tak apa, kami akan menundanya untuk beberapa waktu yang lama.' 
Para gadis ini menyiapkan makan siang untuk kami. Kami mendirikan sebuah ruangan kecil tempat kami bisa mengambil sampel darah dan melakukan EKG. Kami berada di kota itu selama empat minggu lamanya. Kemudian, aku berbicara dengan pihak yang berwenang. Mereka mengizinkan kami menggunakan bangunan sekolah selama musim panas. Kami mengundang seluruh warga Roseto untuk diuji."

Hasilnya benar-benar menakjubkan. Di Roseto, praktis tidak ada orang yang meninggal karena serangan jantung atau menunjukkan tanda-tanda terserang penyakit jantung. Untuk orang di atas 65 tahun, tingkat kematian karena penyakit jantung di Roseto sekitar setengah dari seluruh Amerika Serikat. Bahkan, tingkat kematian karena berbagai penyebab di Roseto sekitar 30 sampai 35% di bawah dugaan.

Wolf membawa salah seorang temannya, seorang sosiolog dari Okhlahoma bernama John Bruhn, untuk menolongnya. "Saya mengikutsertakan mahasiswa kedokteran dan mahasiswa pascasarjana sosiologi untuk melakukan wawancara, dan di Roseto kami berkunjung ke setiap rumah dan berbicara dengan setiap orang yang berusia sedikitnya 21 tahun," ujar Bruhn. 

Hal ini terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu. "Tidak ada kasus bunuh diri, tidak ada penyalahgunaan alkohol, tidak ada kecanduan obat terlarang, dan sangat sedikit kejahatan. 

Tidak ada seorang pun dari mereka yang hidup di garis kemiskinan. Kemudian, kami memeriksa apakah ada yang mengidap penyakit luka lambung. Nihil. Orang-orang ini meninggal karena usianya yang sudah uzur. Itu saja."
Di bidang pekerjaan Wolf, mereka memiliki sebuah nama untuk tempat seperti Roseto - sebuah tempat di luar pengalaman manusia yang normal, di mana aturan normal tidak ditemukan di tempat itu. Roseto adalah sebuah outlier.
Penilaian awal Wolf adalah warga Roseto pasti menjalankan sejenis pengaturan makanan dari Dunia Lama yang membuat mereka lebih sehat daripada kebanyakan orang Amerika lain-nya. 
Tetapi, dia kemudian menyadari bahwa itu adalah asumsi yang keliru. Warga Roseto memasak makanannya dengan lemak babi dan bukan dengan minyak zaitun yang lebih sehat yang mereka gunakan sewaktu hidup di Italia. 
Piza di Italia dibuat dalam bentuk lempengan roti tipis dengan garam, minyak, dan mungkin tomat, ikan hering kecil, atau bawang. 
Piza di Pennsylvania dibuat dalam bentuk lempengan roti yang tebal ditambah sosis, daging pepperoni, salami, ham dan kadang telur. Kudapan manis seperti biscotti dan taralli biasa disimpan untuk hari Natal dan Paskah; di Roseto, mereka menemukan bahwa 41% kalori yang mereka dapatkan berasal dari lemak. 
Warga kota ini pun jarang melakukan yoga dan berlari pagi sejauh enam mil di udara yang dingin secara konsisten. Warga Roseto di Pennsylvania adalah perokok berat dan banyak di antaranya yang berkutat dengan permasalahan obesitas.
Kalau pola makan dan olahraga tidak menjelaskan temuan mereka, bagaimana dengan genetika? Warga Roseto adalah sekelompok orang yang sangat dekat dan berasal dari daerah yang sama di Italia, dan dugaan Wolf berikutnya adalah apakah fakta bahwa mereka berasal dari garis keturunan yang sama menyebabkan mereka dilindungi dari penyakit tertentu. 
Jadi, dia menyelidiki anggota keluarga warga Roseto yang tinggal di bagian lain Amerika Serikat untuk melihat apakah mereka memiliki tingkat kesehatan yang sama seperti saudara-saudara mereka di Pennsylvania. Ternyata tidak.
Dia kemudian menyelidiki daerah tempat warga Roseto tinggal. Apakah mungkin ada sesuatu di lingkungan perbukitan yang mereka diami di Pennsylvania timur yang bagus untuk kesehatan mereka? Dua kota yang paling dekat dengan Roseto adalah Bangor, yang tidak jauh di bawah bukit, dan Nazareth, beberapa mil jauhnya. 
Kedua kota ini memiliki ukuran yang kuarang lebih sama dengan Roseto, dan keduanya didiami oleh warga imigran Eropa yang juga pekerja keras. Wolf meneliti catatan kesehatan kedua kota ini. 
Untuk pria berusia di atas 65 tahun, tingkat kematian akibat serangan jantung di Nazareth dan Bangor ternyata tiga kali lipat dibandingkan dengan Roseto. Buntu lagi.
Hal yang mulai disadari Wolf adalah rahasia di Roseto bukanlah pola makan, olahraga, gen, atau lokasi. Rahasianya pasti di Roseto sendiri. Saat Bruhn dan Wolf berjalan-jalan di kota tersebut, mereka menemukan jawabannya. 
Mereka melihat bagaimana warga Roseto saling berkunjung, berhenti untuk mengobrol dalam bahasa Italia di jalanan, atau memasak untuk tetangganya di halaman belakang rumah. Mereka mempelajari berbagai klan keluarga besar yang menjadi penopang struktur sosial di kota tersebut. 
Mereka melihat berapa banyak rumah yang ditinggali oleh tiga generasi keluarga, dan seberapa besar rasa hormat yang didapat oleh para kakek-nenek. Mereka pergi menghadiri misa di Our Lady of Mount Carmel dan melihat efek pemersatu dan penenang dari gereja tersebut. 
Mereka menghitung ada 22 organisasi kemasyarakatan yang berbeda-beda di dalam kota yang memiliki warga hampir dua ribu orang banyaknya. Mereka memiliki etos egaliter dalam hidup bermasyarakat, yang mendorong orang-orang kaya untuk tidak memamerkan kekayaan dan menolong orang-orang yang kurang sukses menguburkan kegagalan.
Dalam menerapkan kebudayaan paesani dari Italia selatan ke perbukitan di Pennsylvania timur, penduduk Roseto telah menciptakan sebuah struktur sosial yang hebat dan protektif, yang mampu melindungi mereka dari tekanan dunia modern. 
Warga Roseto hidup sehat karena tempat asal mereka, karena dunia yang telah diciptakan untuk mereka sendiri di kota kecil mungil di perbukitan.
"Aku masih ingat pergi ke Roseto untuk pertama kalinya dan kami melihat makanan untuk dimakan orang-orang sebanyak tiga generasi di sebuah rumah, berbagai toko kue dan roti, orang berjalan-jalan, orang duduk di beranda dan saling bercakap-cakap, dan pabrik pakaian tempat para wanita bekerja sementara para lelaki bekerja di pabrik batu sabak," ujar Bruhn. "Benar-benar ajaib."
Saat Bruhn dan Wolf untuk pertama kalinya mempresentasikan temuan mereka kepada komunitas kedokteran, Anda bisa membayangkan pemikiran skeptis yang mereka hadapi. 
Mereka menghadiri berbagai konferensi di mana rekan-rekannya menyajikan sejumlah data yang sedemikian banyaknya dalam berbagai tabel yang rumit dan merujuk kepada gen atau proses fisiologi tertentu, sementara hanya mereka yang mendiskusikan manfaat yang ajaib dan misterius dari orang-orang yang saling berbincang di jalanan serta keluarga tiga generasi yang tinggal di bawah satu atap. 
Menurut pandangan  konvensional saat itu, menjalani kehidupan yang panjang sangat tergantung kepada siapa diri kita - maksudnya gen yang kita miliki. 
Kehidupan bergantung pada berbagai keputusan yang kita buat - makanan apa yang kita makan, seberapa banyak waktu yang dihabiskan untuk berolahraga, dan seberapa efektif sistem medis merawat kita. Tidak ada yang pernah memikirkan kesehatan yang melibatkan komunitas.
Wolf dan Bruhn harus meyakinkan institusi kedokteran untuk melihat kesehatan dan serangan jantung dalam cara yang sangat baru: mereka harus menyadarkan orang-orang ini bahwa mereka tidak akan mampu memahami mengapa seseorang dalam kondisi sehat jika yang mereka pikirkan hanyalah tentang berbagai pilihan dan tindakan pribadi seseorang yang tidak dihubungkan dengan masyarakat sekitarnya. Mereka harus melihat ke luar individu itu. 
Mereka harus memahami budaya yang menjadi bagian dirinya, dan siapa teman serta keluarganya, dan di mana asal kota keluarganya. Mereka harus menghargai pemikiran bahwa nilai dari dunia yang kita diami dan orang-orang di sekeliling kita memiliki efek yang sangat besar atas siapa diri kita.
Sumber : Buku berjudul "Outliers" yang ditulis oleh Malcolm Gladwell


Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin jarang terlintas dalam pikiran, pertanyaan-pertanyaan kecil yang dapat menjadi suatu bahan refleksi dan renungan bagi kita..

1. Jika kamu kehilangan segalanya hari ini, apa yang akan kamu lakukan besok?
2. Apakah kasih sayang dalam hidupmu sudah cukup bagimu?
3. Bagaimanakah hidupmu 10 tahun lagi jika kamu masih ada di tempat yang sama?
4. Jelaskan dalam beberapa kalimat, kamu adalah orang yang?
5. Apa yang bisa diambil hikmah dari kebiasaan burukmu?
6. Apakah kamu sudah cukup mengambil resiko dalam hidupmu?
8. Apakah kamu dapat menjadi dirimu sendiri ketika sedang berada dihadapan orang lain?
9. Bagaimana caranya agar kamu bisa membuat sedikit perubahan kecil dalam hidup orang lain?
10. Apakah pekerjaan yang kamu lakukan benar-benar kamu sukai?
11. Apakah solusi terbaik untuk hal yang membuatku frustasi berat?
12. Apakah kamu sudah cukup berempati terhadap sesama?
13. Apakah kamu sudah cukup mengerti bahwa tak semua orang bisa memberikan kasih sayang  yang sama?
14. Apakah kamu sudah cukup mengerti  bahwa tak semua orang bisa menuruti setiap keinginanmu?
15. Apa yang menurutmu menjadi kegagalan terbesar dalam hidupmu?
16. Apa yang bisa kamu pelajari dari kegagalan yang pernah kamu alami?
17. Apa sesuatu yang sangat mengecewakanmu?
18. Apa yang seharusnya kamu lakukan dalam hidupmu, dalam skala mikro dan makro?
19. Apa tujuan utama dalam hidupmu?
20. Apakah tindakan yang kamu lakukan untuk merealisasikan tujuan hidup sudah cukup objektif?
21. Apa yang akan dipikirkan oleh dirimu 5 tahun yang lalu jika ia tahu siapa kamu saat ini?
22. Bagaimana kamu mempersiapkan dirimu untuk masa depan?
23. Apakah segala hal yang kamu lakukan sekarang adalah keputusan yang tepat?
24. Apakah kamu sudah cukup untuk merayakan penghargaan dan kebahagiaan terhadap sesama?
25. Apakah yang bisa kamu lakukan untuk membuat orang lain dihadapanmu tersenyum?
26. Bagaimana caranya agar kamu bisa meluangkan waktu lebih banyak dengan orang-orang yang kamu sayangi?
27. Apakah kamu sudah cukup jujur untuk mendengar hatimu sendiri?
28. Apa yang bisa kamu lakukan untuk lebih menghargai usaha setiap orang?
29. Apakah kamu sudah dapat menerima dirimu sendiri?
30. Apakah kamu sudah cukup mampu untuk bertindak pada situasi yang tepat?
31. Bagaimana caramu untuk menyebarkan lebih banyak kebahagiaan?
32. Apakah tempatmu beraktivitas menjadi lebih baik sejak atau ketika kamu masuk kesana?
33. Apa harapan orang tua terhadapmu?
34. Apakah kamu sudah sepenuhnya mewujudkan harapan agar orang tua bangga padamu?
35. Apa kelemahan terbesarmu?
36. Apa yang bisa kamu lakukan untuk menguatkan kelemahanmu?
37. Apa kelebihan terbesarmu?
38. Apa yang bisa kamu lakukan untuk memaksimalkannya?
39. Apakah hubunganmu dengan Tuhan sudah benar?
40. Bagaimana menurutmu hubungan yang benar dengan Tuhan?
41. Apakah kamu mendatangi Tuhan hanya saat kamu susah dan terluka?
42. Bagaimana caramu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan?
43. Apakah kamu selama ini sudah cukup bisa mengendalikan diri?
44. Apa sifat terburukmu?
45. Bagaimana caramu menghilangkan sifat burukmu?
46. Apa sifat terbaikmu?
47. Bagimana caramu mempertahankan sifat terbaikmu?
48. Bagaimana urutan prioritas-prioritas hidupmu?
49. Apakah kamu sudah cukup mencintai dirimu sendiri?
50. Apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidup?
51. Apakah kamu sudah merasa menjadi seorang yang baik?
52. Siapakah orang terpenting dalam hidupmu?
53. Kegiatan apa yang benar-benar enjoy melakukannya mesikupun sangat lelah?
54. Apabila ada suatu permintaan yang pasti terwujud dalam hidupmu, apa itu?
55. Bagaimana orang lain menilai dirimu?
56. Bagaimana kamu ingin dipandang atau dinilai orang lain?
57. Apa hal terpenting dan nomor satu dalam hidupmu?
58. Apakah satu kesalahan yang paling memberi pelajaran berharga dalam hidupmu?
59. Kenangan apa yang paling mengesan dalam hidupmu?
60. Apa arti keluarga, cinta dan persahabatan untukmu?
61. Terkait pertanyaan no. 61, Sudahkah selama ini hubunganmu baik dan benar?
62. Bagaimana cara kamu menjaganya?
63. Terkait pertanyaan no.61, apa harapanmu terkait hal tersebut?
64. Apakah kamu sudah menemukan kebahagiaanmu?
65. Apabila ya, sudahkan kamu secara maksimal mempertahankannya?,lalu bagaimana caranya?

                Kematian merupakan hal yang pasti dan sebaik-baiknya manusia adalah yang selalu merenungi setiap langkah yang akan dilakukannya. Renungan-renungan diperlukan agar diri menjadi semakin baik dan bijak dalam memanfaatkan waktu. Waktu yang terbuang sia-sia akan mereduksi kualitas hidup sehingga kehidupan kita yang singkat ini akan kehilangan makna. Waktu akan terus berjalan dan waktu tak akan menunggu kita.. Sudahkah kita selama benar dalam memaknai hakikat kehidupan?
~Adam Rifa’i~



Money can’t buy happiness. Begitu sebuah kata mutiara pernah terdengar. Apakah memang demikian adanya?

Tulisan kali mencoba menjelajah hasil studi saintifik yang mengulik relasi rumit antara uang dan kebahagiaan. Dan seperti yang sebentar lagi akan kita baca, hasilnya menyodorkan jawaban yang mengejutkan.

Kebahagiaan adalah sebuah tema penting dalam hidup. Uang juga merupakan elemen krusial dalam kehidupan. Maka mari di pagi yang cerah ini kita telusuri dua tema penting ini : uang dan kebahagiaan.

Studi empirik yang mencoba melacak korelasi uang dan kebahagiaan sejatinya telah banyak dilakukan. Salah satunya yang terkenal, dilakukan oleh Daniel Kahneman, pakar ilmu “financial psychology” yang juga pemenang nobel ekonomi 2002.

Dalam risetnya itu ia menemukan fakta yang dikenal dengan istilah : income threshold. Inilah titik batas income yang akan menentukan apakah uang masih berdampak pada kebahagiaan atau tidak. Sebelum income menembus titik threshold itu, maka uang punya peran signifikan dalam menentukan kebahagiaan. Namun begitu income sudah menembus batas threshold itu, maka uang tidak lagi punya makna dalam menentukan kebahagiaan. 

Lalu berapa titik income threshold itu? Dalam kajiannya yang melibatkan ribuan responden di USA, angka batas income itu adalah USD 6000 per bulan. (Dengan mempertimbangkan perbedaan biaya hidup, mungkin angka USD 6000 itu ekivalen dengan angka Rp 15 – 20 juta per bulan, jika diubah dalam konteks Indonesia).

Penelitinya menulis : sebelum income menembus angka USD 6000 per bulan, uang punya peran besar dalam menentukan level kebahagiaan seseorang. Faktanya, beragam studi lain menyebut bahwa kondisi finansial yang terbatas merupakan salah satu pemicu utama stress dan depresi.

Namun, begitu income responden melampaui USD 6000, maka peran uang dalam membentuk kebahagiaan makin pudar dan pelan-pelan lenyap.

Artinya, orang dengan income USD 6500 misalnya akan memiliki level kebahagiaan yang tidak berbeda dengan orang dengan income USD 60.000 per bulan atau bahkan USD 6 juta per bulan. Dalam konteks itulah benar jika ada yang menyebut : semakin kaya Anda, belum tentu makin bahagia. Studi Kahneman menegaskan : makin tinggi income Anda, ternyata justru makin menurunkan peran variabel uang dalam menentukan kebahagiaan.

Pertanyaannya : kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan?

Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama “hedonic treadmill”. Gampangnya hedonic treadmill ini adalah seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga. 

Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilanmu.

Dengan kata lain, nafsumu untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-me. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill : seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju. Sebab nafsu-mu akan materi tidak akan pernah terpuaskan. Saat income 10 juta/bulan, naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan naik Alphard. Ini mungkin salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill. 

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi. Sebab harapanmu akan penguasaan materi juga terus meningkat sejalan kenaikan income-mu.

Ada eksperimen menarik : seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah. Apa yang terjadi ? Enam bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah. Itulah efek hedonic treadmill : karena nafsumu terus meningkat, kebahagiaanmu seolah berjalan di tempat, meski income melompat 10 kali lipat. Atau bahkan dapat hadiah 5 milyar. Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill? Lolos dari jebakan nafsu materi yang tidak pernah berhenti?

Disinilah relevan untuk terus mempraktekan gaya hidup yang minimalis yang bersahaja ( qona’ah ) : sekeping gaya hidup yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.

Prinsip hedonic treadmill adalah : more is better. Makin banyak materi yang kamu miliki makin bagus. Jebakan nafsu yang terus membuai. Makin banyak mobil yang kamu miliki, makin bagus. Makin banyak properti yang kamu beli makin tajir. Godaan nafsu kemewahan yang terus berkibar-kibar.

Gaya hidup minimalis punya prinsip yang berkebalikan : less is more. Makin sedikit kemewahan materi yang kamu miliki, makin indah dunia ini. Gaya hidup minimalis yang bersahaja punya prinsip : hidup akan lebih bermakna jika kita hidup secukupnya. When enough is enough.

Prinsip hidup bersahaja, yang tidak silau dengan kemewahan materi, justru akan membawa kita pada kebahagiaan hakiki.

Dalam istilah islam kita kenal dengan ” zuhud ” yaitu meletakkan materi duniawi pada tempatnya, sedikit atau banyaknya materi yang dimiliki tidak mengganggu ketaatan kepada Allah dan tidak merubah sikap sederhana dalam prinsip hidup bersahaja (boleh saja income dan materi terus bertambah, tetapi sikap dan gaya hidup tidak boleh berubah)

Sebab pada akhirnya, bahagia itu sederhana. Acapkali kita terlalu jauh mencari kebahagiaan yang mana sebenarnya hal tersebut sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, karena mindset kita yang selalu mengabaikannya atau bahkan memandang rendah nilai kebahagiaannya, maka yang banyak terjadi hanyalah sebuah pengejaran kebahagiaan semu. 

Maka seharusnya kita patut bertanya pada diri kita, seberapa sadarkah kita selama ini dalam menghargai, memaksimalkan dan bersyukur terhadap apa yang kita punyai sekarang?
 
Selamat menemukan kebahagiaan yang bersahaja.

Penulis : Rheynald Kasali ; Mevrow



Sering bertemu orang yang berteriak kasar saat berada di kemacetan jalanan ?? Pernahkah melihat dua orang yang bersitegang atau berkelahi hanya karena masalah yang sepele ?? Atau pernah tidak, ada seseorang yang sembarangan menyerobot jalur antrianmu ?? 

Itu hanya sebagian kecil dari banyaknya kasus masalah sosial di kehidupan sehari-hari kita. Tapi pernah tidak kamu mencari tahu, kenapa sepertinya kehidupan ini semakin lama semakin kurang bersahabat dengan kita ??

Jawabannya hanya satu, karena ‘RASA SALING’ kepada sesama sudah mulai memudar. Hal ini terjadi akibat tekanan hidup yang seakan makin berat dan akhirnya membuat orang-orang menjadi mementingkan diri sendiri atau individualistis.

Dan berikut penjelasan Steven Agustinus seorang Potential Explorer yang akan menjelaskan “7 PRINSIP SALING” yang harus kita praktekkan kepada sesama :

1.     Saling Melayani

Prinsip saling melayani  maksudnya adalah kamu harus saling merendahkan hati satu sama lain dan tidak menganggap diri lebih utama atau lebih penting dari yang lain. Tapi justru kamu harus menganggap sesamamu lebih penting dari dirimu sendiri.

Dengan demikian tindakan saling sikut menyikut, mengadu domba atau tindakan lainnya yang bertujuan untuk menyingkirkan orang yang kamu anggap sebagai musuh/ lawan, tidak akan pernah terjadi. Karena kita semua mempraktekkan prinsip saling melayani dan menganggap orang lain lebih utama dibanding kita.

2.       Saling Mengasihi
Untuk mempraktekkan prinsip saling mengasihi maka kita harus menggunakan hati yang tulus sehingga motivasi kita pun akan tetap terjaga murni. Lalu bagaimana cara sederhana untuk kita menerapkan prinsip saling mengasihi ini ?? Sangat mudah, jawabannya adalah saling mendahului dalam memberi hormat satu sama lain.

Memberi hormat satu sama lain bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana di dalam kehidupan sehari-hari kita. Sebagai contoh bertegur sapa sambil memanggil nama dengan nada sopan kepada satu sama lain, itu sudah menjadi bentuk apresiasi kita kepada orang lain.

Namun ini yang harus kamu mengerti, bahwa kesenioritasan bukanlah patokan untuk kamu melakukan tindakan saling mengasihi dan menghormati. Memang kita harus menghormati orang yang usianya ada di atas kita, namun bukan berarti kamu yang lebih tua menjadi lebih rendah saat menyapa orang yang lebih muda darimu. Karena jika kamu mengasihi dan menghormati orang lain tanpa memandang usia, sesungguhnya kamu sedang menumbuhkan sifat kerendahan hatian dan respek terhadap orang lain.

3.       Saling Menginspirasi
Jangan merasa cemburu, iri hati ataupun marah terhadap keberhasilan dan terobosan yang dialami oleh seseorang. Tetapi ikutlah berbahagia dan bersukacita atas kesuksesan orang tersebut (kesuksesan tidak hanya berbicara kekayaan namun bisa mengenai segala aspek).

Justru jadikan keberhasilan tersebut sebagai inspirasi bagimu. Sehingga keberhasilan dan terobosan yang dialami olehnya, bisa juga kamu rasakan. Terobosan dan keberhasilan dapat kamu alami, saat kamu mengkondisikan hati dan dirimu untuk belajar terbuka serta mau belajar dari orang tersebut. Begitupula sebaliknya, jika kamu alami keberhasilan ataupun terobosan atas tantangan hidupmu. Maka kamu juga harus menceritakannya kepada orang lain agar mereka juga diinspirasi dari kisahmu tersebut.

4.       Saling Mengingatkan
Setiap kita harus menyadari dan mengakui bahwa kita memiliki banyak kelemahan serta kekurangan. Namun saat kamu melihat orang di dekatmu sedang melakukan tindakan yang salah, maka kamu berkewajiban untuk mengingatkan hal yang benar kepadanya.

Sebaliknya jika kamu yang diingatkan oleh orang lain, maka responi dengan hati terbuka untuk dikoreksi dan bersyukurlah bahwa itu menunjukkan bahwa ada seseorang yang selama ini terus memperhatikanmu. Gunakanlah koreksian tersebut untuk mengevaluasi diri agar kamu lebih baik lagi dari sebelumnya.

Karena setiap orang pasti memiliki ‘blind spot’ atau sisi yang tidak bisa terlihat oleh dirinya sendiri, namun hal tersebut hanya dapat dilihat oleh orang lain. Jadi milikilah hati yang terbuka terhadap masukan dan koreksian dari orang lain terhadapmu. Jika kamu terus mengeraskan diri terhadap masukan yang ada, maka kamu akan terus bergumul dengan kelemahanmu tersebut.

5.       Saling Menguatkan

Ketika ada orang terdekatmu sedang alami down, menyerah, putus asa, kecewa atau emosi negatif lainnya. Maka adalah kewajibanmu untuk mulai menguatkan dan mensupportnya agar ia bisa alami terobosan serta kemenangan dari setiap pergumulan hidupnya.

Sikap menjatuhkan, menyalahkan, ataupun tertawa di atas penderitaan orang lain adalah tindakan yang tidak terpuji. Jika kamu melakukan hal tersebut, justru itu menandakan bahwa kamu adalah seseorang yang sedang membawa konflik dan luka di dalam hatimu.

Pastikan kamu menjadi seseorang yang selalu bisa mengalirkan energi positif, kekuatan dan harapan bagi mereka yang sedang alami down. Jika ada orang terdekatmu sedang alami keterpurukan, jangan injak dia, tetapi kamu harus menopang, mengangkat dan menguatkan dia.

6.       Saling Menjagai
Memang kita tidak akan bisa selalu 24 jam bersama orang-orang terdekat kita, namun cara menjagai yang efektif adalah dengan MENDOAKAN mereka. Tanpa kita sadari, doa-doa yang kita panjatkan sesungguhnya memiliki kuasa untuk menjagai mereka.

Karena kamu tidak akan bisa menggunakan kemampuan manusiamu untuk menjagai orang-orang terdekatmu dari hal-hal buruk. Tetapi dengan BERSERAH dan BERDOA, sebenarnya kamu sedang meminta kekuatan yang datangnya dari ‘atas’. Jadi jangan pernah meremehkan kekuatan dari sebuah doa !!!

7.       Saling Memperhatikan
Di dalam komunitas atau perkumpulan, selalu ada orang yang menonjol dan ada juga yang tidak menonjol. Apabila kamu merupakan salah satu seseorang yang lebih famous dari yang lainnya, maka kamu harus mulai bergaul dengan mereka yang kurang dikenal.

Jangan hanya berteman atau dekat dengan orang-orang yang menonjol saja, namun mulailah memperhatikan mereka yang terlihat pendiam atau yang tidak suka dalam kerumunan banyak orang. Kemudian mulailah untuk membangun komunikasi dan hubungan yang lebih dekat lagi dengan mereka.

Mulailah saling memperhatikan satu sama lain, kita bisa memulainya dengan berbagai cara yang sederhana. Entah menanyakan kabar, memberi dukungan, memotivasi dan lain sebagainya. Yang pasti lakukanlah itu semua dengan motivasi yang tulus tanpa ada manipulasi sama sekali.(Indonesiaone)



Islam adalah ajaran yang sempurna, sebuah sistem dan cara pandang hidup yang lengkap, praktis, dan mudah. Islam memberikan tuntunan terkait hal yang bersifat individu dan yang menyangkut masalah kemasyarakatan. Semua itu telah diatur oleh Islam. Allah l berfirman,                

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, telah Ku-cukupkan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Islam mengajak manusia ke alam nan bercahaya, terang benderang. Islam menarik manusia dari kegelapan dan mengarahkannya menuju kehidupan yang penuh makna. Islam membebaskan manusia dari kehampaan hidup, kekeringan jiwa, dan kehilangan arah kendali hidup. Melalui Islam, manusia menjadi tercerahkan. Kebodohan yang tergumpal di dada manusia terbuncah, memberai lalu sirna. Islam dengan sinarnya yang kemilau memupus kebodohan yang meliputi umat. Karena itu, berbahagialah manusia yang telah diliputi oleh petunjuk, berpegang teguh dengan Islam dan menepis setiap nilai jahiliah.     

        Adapun orang-orang yang berpaling dan tidak mau peduli terhadap kebenaran Islam, sungguh mereka adalah orang-orang yang merugi. Hawa nafsu menjadi landasan pacu amalnya. Perilakunya senantiasa diwarnai oleh noda hitam pekat, tidak merujuk kepada Islam, dan lebih menyukai bersandar kepada sistem nilai kekufuran.


        “Barang siapa yang mencari tuntunan selain Islam, maka tidak akan diterima (amal perbuatannya) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)       

       Lantaran keadaan mereka yang gersang dari ajaran Islam, tanpa pemahaman dan amal yang lurus dan benar, mereka lebih condong bergelut dengan beragam maksiat. Kehidupan dunia telah banyak memerdayakannya. Mereka berlomba mereguk materi sebanyak-banyaknya tanpa memerhatikan nilai kebenaran walaupun semua itu semu, tidak terkecuali dari kalangan kaum muda Islam. Dengan slogan kata ‘modern’, mereka bergumul meraup dunia. Mereka meninggalkan batas-batas dan menerobos rambu-rambu agama. Halal-haram tak lagi menjadi pertimbangan dalam bersikap. Bagai dikebiri, mereka terjerat siasat Yahudi dan Nasrani. Tidak ada lagi kecemburuan terhadap Islam. Ghirah untuk menampilkan diri sebagai sosok muslim taat pun mandul. Mata, hati, dan pendengaran sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mereka tidak ubahnya bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Allah menggambarkan fenomena ini dalam ayat-Nya,                                                                                

           “Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 179)

        Karena keadaan hati yang buta dan tuli, banyak manusia menolak kebenaran. Bahkan, tidak sedikit yang melontarkan caci maki terhadap Islam dan kaum muslimin yang taat kepada ajarannya. Bagi mereka, Islam dianggap sebagai ajaran yang kolot, kuno, dan ortodoks. Islam hanya akan mengekang kebebasan manusia dalam berbuat, berekspresi, dan berperilaku. Orang-orang yang setia dan mengagungkan Islam mereka tuduh sebagai manusia picik. Singkat kata, Islam hanya akan memberangus apa yang diinginkannya dan hanya akan menyulitkan manusia. Islam hanya akan mempersempit ruang gerak kehidupannya, memasung kebebasannya, dan mengebiri pergaulannya. Padahal Allah swt berfirman,


 “Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)             

“Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 1—3)
 Celoteh mereka hakikatnya menunjukkan bahwa mereka tidak memahami Islam secara baik dan benar. Bisa jadi, hal itu karena kedengkian yang ada pada hati mereka. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun, yang jelas sikap apriori mereka terhadap Islam sangat merugikan. Celah ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Upaya mereka untuk memadamkan cahaya Islam seakan mendapat angin segar. Inilah gerakan yang disinyalir melalui firman-Nya,


         “Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

           Akibat sikap buruk terhadap Islam, mereka pun mematri aturan-aturan hidup yang bersumber dari hawa nafsu. Mereka bangga melaksanakannya meskipun kemudian menimbulkan kerusakan di semua lini kehidupan. Dalam pergaulan antarjenis manusia, kerusakan kronis telah begitu kuat mencengkeram. Kebebasan seksual, perilaku kerahiban (hidup membujang), homoseks, lesbian, dan perilaku penyimpangan seksual lainnya telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Hubungan yang bercampur baur antara pria dan wanita yang bukan mahram tidak lagi dianggap sebagai dosa yang harus dijauhi. Anehnya, tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang meniru dan bangga dengan hal itu. Tanpa rasa takut kepada Allah swt, tanpa malu, dan tanpa risih mereka tiru mentah-mentah perbuatan yang menyelisihi Allah swt dan Rasul-Nya n. Nabi n berkata,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْـِي فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya dari apa yang telah manusia peroleh dari perkataan kenabian yang pertama, ‘Jika engkau tak memiliki rasa malu, berbuatlah sekehendakmu’.” (HR. al-Bukhari no. 6120 dari sahabat Abu Mas’ud z)                                                                                                

         Menjelaskan hadits di atas, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizahullah berkata, “Malu adalah perangai yang agung. Sikap malu menyebabkan seseorang tercegah dari sesuatu yang akan mengantarkan kepada hal yang tak patut, seperti perbuatan-perbuatan yang rendah dan hina, serta akhlak buruk. Oleh karena itu, sikap malu ini termasuk dari cabang keimanan.” (al-Minhatu ar-Rabbaniyyah fi Syarhi al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 181)                                                                                           

        Jika malu sudah tidak lagi ada di dada, sikap tidak nyaman lantaran melanggar ketentuan Allah l dan Rasul-Nya n menjadi sesuatu yang biasa. Tidak ada lagi kata risih. Jangankan malu, risih saja tidak. Dengan berbuat seperti itu, seakan-akan mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang menerapkan sistem modern. Kalau tidak berbuat dan menerapkan hal demikian, bakal merugikan kehidupannya, masa depannya, dan segenap usahanya. Apa yang dilakukannya seakan-akan merupakan langkah yang baik, selaras dengan prinsip hidup modern, dan sesuai dengan kondisi masyarakat. Fenomena ini digambarkan oleh Allah l dalam firman-Nya, Katakanlah, “Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)                                                        

    “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)                              
      Padahal, apa yang dibanggakannya bisa menjadi sumber bencana. Prinsip-prinsip yang menggayut dalam benaknya adalah pemantik petaka dan perantara turunnya azab Allah l. Firman-Nya,                     

       “Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63) Maka dari itu, yang sekiranya hal itu merupakan perbuatan yang dilarang, hendaknya dijauhi. Sekiranya itu merupakan perintah untuk dipraktikkan, maka tunaikanlah. Sesungguhnya Rasulullah  bersabda,


مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang telah kularang padamu darinya, tinggalkanlah (jauhilah). Apa yang telah kuperintahkan dengannya, tunaikanlah semampumu.” (HR. al-Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337 dari sahabat Abu Hurairah z)     

 Meskipun demikian, masih ada sekelompok manusia yang menyandarkan falsafah hidupnya hanya untuk meraup kesenangan. Ia tidak peduli kesenangan yang didapat dia tempuh dengan cara apa. Baginya, kesenangan adalah satu-satunya kebaikan. Prinsip hidup “asal senang” ini adalah prinsip hidup kaum hedonis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme diartikan sebagai pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup.                              
  Doktrin hedonisme (asal katanya adalah hedone, bahasa Yunani yang berarti kesenangan) digulirkan oleh salah seorang murid Socrates yang bernama Aristippus.   

  Filsafat hedonisme mengajarkan prinsip “Apa yang dilakukan dalam rangka meraup kesenangan atau menghindari penderitaan. Kesenangan adalah satu-satunya kebaikan, dan mencapai puncak kesenangan adalah satu-satunya kebajikan.” (Sejarah Pemahaman Psikologi dari Masa Kelahiran sampai Masa Modern, Dr. C. George Boeree, hlm. 55)                                                                             

 Pemahaman ini diusung pula oleh Sigmund Freud, seorang keturunan Yahudi yang melontarkan ide Principle of Pleasure (Prinsip-Prinsip Kenikmatan). Freud melemparkan ide bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia akan bermuara pada soal ekspresi dan nafsu seks. Dengan demikian, atas dasar kenikmatan dan kesenangan ini, tanpa memerhatikan norma yang ada, serbuan pemahaman yang bertitik tekan pada kesenangan dan kenikmatan hidup semata menyeruak masuk ke benak sebagian manusia. Tidak mengherankan apabila kemudian di tengah masyarakat muncul iklan-iklan yang diwarnai oleh citra seksual. Begitu pula di sisi kehidupan media massa lainnya. Berita dan cerita yang beraroma nafsu birahi cenderung meningkat dan digandrungi. Sadar atau tidak, gaya hidup hedonis telah merembes dan menjadi bagian hidup sebagian masyarakat. Gaya hidup hedonis membentuk sikap mental manusia yang rapuh, mudah putus asa, cenderung tidak mau bersusah payah, selalu ingin mengambil jalan pintas, tidak hidup prihatin, dan bekerja keras.     
              
 Seseorang yang terjebak gaya hidup hedonis akan mengambil bagian yang menyenangkan saja. Adapun hal yang bakal memayahkannya, dia hindari. Dia tidak mau peduli bagaimana orang tuanya bekerja keras siang dan malam, sementara itu dirinya hanya bisa nongkrong di mal, berkumpul dengan kalangan berduit, selalu memilih barang berharga mahal meskipun menggunakan barang yang relatif murah sebenarnya bisa. Apa yang melekat pada dirinya harus selalu terkesan mewah dan elegan.Gaya hidup hedonis identik dengan gaya hidup glamor, hura-hura, foya-foya, dan bersenang-senang.   
             
 Gaya hidup hedonis akan mengantarkan seseorang pada sikap mental yang tidak mau peduli dan peka melihat keberagaman hidup, tidak memiliki sensitivitas terhadap kesulitan hidup orang lain. Singkat kata, gaya hidup hedonis melahirkan manusia-manusia yang tumpul sikap sosialnya, melahirkan jenis manusia asosial.

        Padahal hidup di dunia ini hanyalah main-main dan sendau gurau belaka. Adapun kampung akhirat adalah hal yang lebih utama. Allah l berfirman,

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (al-An’am: 32)

       Rasulullah  mengibaratkan kehidupan dunia bagai seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon. Kala lelah telah sirna dari tubuhnya, pengelana itu pun melanjutkan perjalanannya. Pohon tempatnya berteduh dia tinggalkan. Itulah dunia beserta kehidupan di dalamnya, sekadar tempat rehat sesaat. Nabi n bersabda,


مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apalah arti dunia bagiku. Tiadalah (bagi) aku dalam perkara dunia melainkan seperti seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon, lalu setelah itu meninggalkan (pohon) tersebut.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan hadits ini sahih dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu no. 5669)

Dalam sebuah hadits dari Abul Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z disebutkan,


أَتَى النَّبِيَّ n رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n:  ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

          “Seorang lelaki datang kepada Nabi n. Laki-laki itu berkata kepada Nabi n, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang apabila aku mengamalkannya Allah akan mencintaiku dan manusia akan mencintaiku.’ Jawab Rasulullah n, ‘Zuhudlah dalam urusan dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu’.” (HR. Ibnu Majah no. 4102, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani t. Lihat ash-Shahihah no. 944)


        Sikap zuhud bisa dilakukan oleh seorang hamba yang fakir ataupun yang memiliki harta kekayaan yang melimpah. Bagi orang fakir, hendaknya dia berzuhud dengan tetap bersemangat mencurahkan segenap kemampuannya bagi kehidupan akhiratnya. Adapun bagi yang diberi limpahan harta kekayaan, dia berzuhud dengan segenap kemampuan dari hartanya guna kepentingan Islam dan kaum muslimin. Harta yang disalurkan untuk hal itu akan membawa kebaikan baginya dan tidak akan membinasakannya. (asy-Syaikh Muhammad al-Imam, Tahdzirul Basyar, hlm. 95)


      Menyikapi kehidupan dunia dengan bimbingan syariat, niscaya akan menyelamatkan hamba dari tekanan hedonisme. Seseorang tidak akan diperbudak oleh dunia, tidak pula silau oleh kemilau dunia yang menipu. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan kampung akhirat adalah tempat tujuan yang hakiki, tujuan nan abadi.


       “Adapun kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’la: 17)

      Saat seseorang meninggalkan dunia fana ini menuju kampung akhirat, segenap harta kekayaan yang telah dikumpulkan selama hidupnya tidak akan dibawanya, kecuali kain kafan yang menyelimutinya. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah 


 يَتْبَعُ الْمَيَّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

    “Orang yang meninggal dunia itu diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua akan kembali, adapun yang satu tetap tinggal. Yang kembali adalah keluarganya dan hartanya. Adapun yang tetap (bersamanya) adalah amalnya.” (HR. al-Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 5)


     Begitulah dunia, dia tidak akan selalu bersama pemiliknya. Dia akan terpisah, meninggalkan pemiliknya. Kaum hedonis amat sukar menerima kenyataan ini.

Wallahu a’lam.

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)